Menantang Rasi Bintang* (Bagian 1)


"Menantang rasi bintang, membalik garis tangan. Menarikan cerita, menuliskan lagi puisi yang mulai kehilangan rimanya." (oleh FSTVLST)

Malam pukul setengah delapan ketika aku tengah duduk di teras bersama secangkir NutriSari hangat dan pukis cokelat. Suara jangkrik pohon dan hembusan angin yang sesekali menabrak kulitku menjadi atmosfer yang selalu menenangkan, jauh dari rutinitasku yang rumit dan membosankan.

Namaku Samantha Golvina, tetapi panggil saja aku Sam. Aku tinggal di pusat kota batik, Yogyakarta, dan aku adalah perempuan yang sedang beradaptasi dengan rutinitas baruku menjadi orang dewasa, mungkin. Umurku masih 19 tahun, namun aku merasa seperti berada dalam tubuh wanita karier berumur 25 tahun. Entah apa yang terjadi kepadaku dan duniaku, aku masih ingin bermain bersama teman-temanku, namun Ibuku selalu berkata bahwa bermain-main sudah tidak lagi cocok untukku. Ibu memaksaku untuk mencari pekerjaan agar aku tidak menghabiskan waktuku untuk pergi bersama teman-temanku yang menurutnya hanyalah kebiasaan berfoya-foya. Sebagai tidak lanjut dari tuntutan Ibu, aku pun melamar pekerjaan di salah satu percetakan buku dan desain grafis di kota Yogyakarta. Pekerjaan yang kuambil sepertinya terlalu sesuai dengan kegemaranku sejak kecil, yaitu seni. Namun, terkadang apa yang kita lihat mudah tidak benar-benar seratus persen mewakili keseluruhannya.

"Sam, kamu mau pulang atau nginep disini? Ini udah terlalu larut." 

Suara serak itu membuyarkan lamunanku. Namanya Jill, dia adalah teman yang kukenal pertama kali di kota Yogyakarta ini. Kami dipertemukan saat Masa Orientasi Siswa Baru di Sekolah Menengah Seni Rupa dan akhirnya kami bersahabat. Pada waktu itu aku baru saja pindah dari Bandung setelah Ibuku resmi bercerai dengan Ayah. Kami berdua tinggal di rumah Nenek. Kemudian aku didaftarkan di sekolah itu, dimana menjadi awal pertemanan kami. Jill adalah keturunan China Jawa. Ibunya adalah orang Jogja Asli yang merupakan dosen di salah satu universitas di Yogyakarta. Ayahnya pedagang beras yang sukses sehingga hidupnya selalu berkecukupan. Namun, Jill dan keluarganya memilih tinggal di pinggiran kota; desa yang jauh dari keramaian dan penuh ketenangan.

"Aku masih pengen disini, ngadem. Bosan di kota panas terus."
"Nanti dicariin Me lho, Sam. Kamu juga harus kerja kan besok, apa nggak kejauhan kalau berangkat dari sini?" 

Me adalah panggilanku untuk Ibuku, sedangkan Ayah, aku memanggilnya Pe. Sayang, aku tidak pernah lagi memanggil Pe sejak hari kepindahanku ke Yogyakarta.

Ibu bilang, sewaktu balita aku tidak bisa menyebut huruf "A" di akhir kata, sehingga aku selalu memanggil kedua orang tuaku seperti itu. Parahnya,  Jill juga selalu ikut memanggil orang tuaku dengan sebutan aneh itu.

"Tapi kamu bilang ini udah terlalu larut, aku kan penakut hehehe." 
"Kalau begitu telpon Me sekarang, dasar kepala batu."
"Kamu bisa menelponnya untukku, Jill? Ya biar Me percaya."
"Pernah po, Me nggak percaya sama aku?"
"Entah untuk kali ini, Me mungkin bakal marah sama aku. Me nggak bolehin aku main lagi. Aku harus memikirkan masa depan, begitu katanya."
"Tapi itu pasti nggak berlaku kalau main sama aku. Santailah."

Jill menelpon Ibu. Mereka berbicara cukup lama, entah apa yang dibicarakan. Aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menimpali pembicaraan mereka.

"Sam, Me ngijinin. Sekarang kamu masuk ke kamarku. Istirahatlah."
"Me bilang apa sama kamu?"
"Me bilang, dia punya anak yang susah diatur gitu."
"Apa maksudmu itu aku?"
"Hahaha, memang ada selain kamu."
"Hah..."
"Apa yang mengganggu pikiranmu sih, Sam?"
"Pura-pura tegar itu lama-lama juga bikin bosan, ya?"
"Emangnya apa yang berusaha kamu tegarkan?"
"Masa mudaku terkekang, Jill. Aku belum pengen kerja. Aku capek kerja terus, aku masih pengen main sama kamu, sama temen-temen yang lain. Umurku masih terlalu muda untuk kerja, apalagi untuk menjadi orang dewasa, Jill. Kamu tahu sendiri bagaimana sifatku."
"Hahaha."

Jill tertawa kecil. Tulang pipinya meninggi didesak senyum simpulnya. Barangkali dia sedang mentertawakan pemikiran irrasionalku itu.

"Tapi, kamu tahu kenapa Me memintamu bekerja?"
"Entahlah... Aku malah pengen punya pacar. Aku capek nge-jomblo gini bertahun-tahun."
"Gak nyambung pembicaraanmu barusan. Dasar."
"Tapi ini serius, aku pengen punya seseorang yang bisa ngimbangin aku, yang sejalan sama aku, yang banyak kecocokan sama aku. Ayahku pernah bilang, setiap hal di dunia ini memiliki pasangan."
"Hm... Sam, setiap hal di dunia ini memang memiliki pasangan, tapi kamu perlu tahu kalau pasangan itu bukan mencari kecocokan atau seberapa banyak kecocokan itu. Tetapi kita cari yang berbeda dengan kita, karena pasangan itu melengkapi dan saling mengisi satu sama lain. Lihat contohnya, siang dan malam, hitam dan putih, air dan api. Semua itu pasangan."
"Aku selalu pengen kaya kamu sama Paksi. Kalian selalu terlihat kompak."
"Iya itu karena yang kamu lihat cuma sisi akur kami berdua, Sam. Padahal sisi lain kami itu sering bertengkar, bahkan soal hal sepele. Itu biasa terjadi dalam hubungan dengan seseorang, jadi bukalah mata dan hati kamu lebar-lebar, Sam. Sentuh dan rasain hal-hal kecil di sekitarmu. Jangan terfokus pada kemauanmu sendiri aja. Kalau kamu bisa ngelakuin itu, kamu bakal tahu mana yang paling kamu butuhin sekarang."

Mendengar semua itu, seketika ada berjuta-juta kenangan  menghujaniku dengan serentak. Mereka seakan mengolok-olokku tanpa sebab.






*Interpretasi lagu yang diciptakan oleh Farid Stevy Asta dengan judul yang sama.

0 tanggapan:

Posting Komentar


1. Jangan berkomentar secara SARA maupun SARU.
2. Jangan Berkomentar spam atau iklan bersifat komersial maupun iklan blog.
3. Jangan menjiplak tulisan apapun dari blog saya.
4. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui oleh penulis.

Sekian.
Salam Blogger.

 

Penonton Peran

Mengikuti

Banner Komunitas Blogger Jogja Berhati Nyaman