Menantang Rasi Bintang* (Bagian 2)


"Memotong awan pekat gelap melintang tepat di jantungnya. Terburailah darah cahaya yang lama terhalang gelapnya. Silau berkilauan terangnya... Benderang..." (oleh FSTVLST)
"Jill, aku boleh minta sesuatu?"
"Tentu aja, katakan."
"Besok temenin ke Amplaz. Aku mau beli beberapa barang."
"Besok ini?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Mengganti barang-barangku yang udah usang. Ada pekerjaan yang menungguku."
"Sekarang aja!"
"Yaudah. Yuk."

Malam telah menua sedang mobil yang kukemudikan masih menyapu jalanan. Jill bersamaku di kursi belakang, sepertinya dia tertidur. Aku sengaja menyuruhnya duduk disana karena kursi depan sudah dipenuhi alat-alat seni yang masih terbungkus plastik segel.

Bepergian tidak sesuai rencana awal memang selalu tidak berjalan mulus. Di tengah perjalanan pulang ini, roda mobilku bocor. Kami terhenti di sekitaran Taman Pintar sedangkan jarak yang kami tempuh untuk pulang masih jauh. Memang ada roda cadangan di bagasi. Namun sialnya, aku tidak bisa mendongkrak mobil, sama halnya dengan Jill.

Aku turun dari mobil dengan kebingungan. Kuputarkan pandangan ke sudut-sudut jalan. Tidak banyak orang yang lalu lalang selarut ini. Aku hanya berdua dengan Jill yang masih tertidur pulas tanpa sadar bahwa mobil yang ditidurinya terhenti.

Aku memutuskan untuk membangunkan Jill setelah beberapa lama menelpon beberapa kontak di handphone ku. Dengan muka bantalnya, dia tergopoh-gopoh turun dari mobil. Aku menyuruhnya menelpon keluarganya setelah aku tidak mendapati satu orang pun mengangkat telpon dariku.

Ketika Jill sibuk dengan handphone-nya, aku terkaget oleh tepukan tangan seseorang di bahuku. Aku memalingkan wajah dan yang kudapati di belakangku telah berdiri seorang pria asing. Pria itu bertubuh kurus tinggi, memakai kaos merah marun yang sedikit kedodoran dan celana jeans selutut. Tangannya menggenggam papan skate yang terbarut-barut. Di kepalanya, terpakai snapback hitam bercorak merah. Wajahnya samar-samar dibalut sinar lampu jalan. Pria itu menyunggingkan senyum kecil kepadaku.

"Kebanan ya, Mbak?"
"I...iya." Jawabku terbata-bata menyembunyikan ketakutan.
"Gimana kalau saya bantu?"
"Saya bisa sendiri kok, Mas."

Aku mulai curiga. Ini semacam salah satu adegan dalam film drama. Ataukah ini hanya sebuah manipulasi dari pria itu supaya dia bisa merampok mobilku.

"Jangan takut, saya bukan orang jahat."
"Mas ini tidak sedang membaca pikiran saya, kan?"
"Haha. Nggaklah. Saya hanya ingin membantu. Kasihan Mbak ini sendirian malam-malam begini." Lanjutnya menambahkan.
"Saya tidak sendiri kok. Itu teman saya." Aku meluruskan telunjuk ke arah Jill.
"Kalaupun dua perempuan sekalipun, apa bisa membereskan ban bocor?"
"Ya udah. Tolong ya, Mas."

Dengan cekatan tangan pria itu membolak-balikkan peralatan bengkel yang diambil dari bagasi mobilku. Aku memanggil Jill yang masih sibuk menelpon. Bahkan dia tidak sadar kalau ada orang asing berbicara denganku. Aku mengajaknya menunggui pria itu selesai mengurusi roda mobilku. Ternyata Jill juga sama takutnya denganku. Kami terlalu banyak mengira-ngira tentang pria itu.

"Selesai." Ucap pria itu dengan tangan mengelap dahinya.
"Terima kasih ya, Mas." Ucapku menimpali.
"Santai aja, Mbak."
"Saya nggak bawa uang lebih buat ucapan terima kasih ke Mas. Kalau saya traktir makan, mau? Tapi jangan anggap ini meremehkan, ini cuma sebagai ucapan terima kasih."
"Haha nggak perlu upah, Mbak. Saya bukan montir. Ini juga sudah larut malam. Saya harus segera pulang. Lain kali kalau ada waktu aja, Mbak. Mbak-mbak ini juga harusnya segera pulang. Tidak banyak orang baik yang ada di sekitaran jalan larut malam begini."
"Ya udah kalau begitu. Besok saya akan kesini. Mas tunggu aja saya disini jam empat sore."
"Nggak usah dibikin janji Mbak. Santai saja. Lagian saya ikhlas membantu. Tenang aja, kita pasti bertemu lain waktu. Saya pamit ya."

Pria itu mulai berjalan pergi. Sosoknya semakin menggelap dari sinaran lampu. Aku bingung. Pria itu aneh, membawa papan skate dengan berjalan kaki seperti gelandangan. Mungkin dia anak malam atau sejenisnya. Tapi, sudahlah. Biarkan.

"Kenapa nggak ditanya namanya? Emang kamu bakal hafal gitu sama mukanya? Kejar!"

Jill lagi-lagi menyuruh hal gila kepadaku. Wajar saja kalau aku seringkali berdebat dengannya.

"Nggak usah, ah. Malulah. Lagian ini cuma hal biasa yang sering terjadi. Kita ditolong oleh seseorang. Dimana-mana bisa terjadi hal semacam ini kan?"
"Kita kan nggak tahu apa yang bakal terjadi habis ini. Siapa tahu dia bakal jadi orang penting di hidup kita besok. Kalau ketemu orang baru, jangan dianggap remeh. Jangan-jangan ini semacam film yang aku tonton kemarin itu, yang aku lihatin DVD-nya ke kamu."
"Iya. Terus apa endingnya?"
"Mereka menikah."
"Aduh. Drama banget gitu!" Timpalku ketus.
"Ih dasar hidupmu monoton. Drama itu perlu, pokoknya kejar! Setidaknya kalau misalnya kamu ketemu dia lagi, kamu bisa bilang makasih lewat traktiran makan yang kamu tawarin itu. Habis itu, anter aku pulang."

Jadi akhirnya, aku mengejar Pria itu. Ada benarnya juga perkataan Jill -yang mengantuk itu- setidaknya aku harus tahu namanya untuk berterima kasih.

"Mas... Mas... Tunggu..." Teriakku dengan napas tersengal.

Pria  itu berhenti dan memalingkan wajahnya ke arahku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, satu-satunya yang aku lihat jelas hanyalah papan skate-nya.

"Saya ingin tahu nama Mas supaya saya bisa mengenali Mas kalau bertemu lagi."
Aku mengungkapkan tujuanku mengejarnya malam itu dengan sangat kaku.

"Nama saya, Bayu." Dia menjawab, lalu pergi.






*Interpretasi lagu yang diciptakan oleh Farid Stevy Asta dengan judul yang sama 

0 tanggapan:

Posting Komentar


1. Jangan berkomentar secara SARA maupun SARU.
2. Jangan Berkomentar spam atau iklan bersifat komersial maupun iklan blog.
3. Jangan menjiplak tulisan apapun dari blog saya.
4. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui oleh penulis.

Sekian.
Salam Blogger.

 

Penonton Peran

Mengikuti

Banner Komunitas Blogger Jogja Berhati Nyaman