Tiga Berkas Warna di Linimasa

Cerpen ini dibuat untuk melengkapi tugas dari Guru Bahasa Indonesia (Ibu Tiwuk Rahmawati, S.Pd.)
Cerpen pertamaku yang bercerita tentang cinta-cintaan. Duh, sempat shock bikinnya -_-
 Oke baiklah. Selamat membaca dan dilarang keras menjiplak artikel ini dalam bentuk apapun. Hargailah karya orang lain. Cheers! 




“Aku pengen balikan sama dia.”

Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah kami tidak berbincang begitu lama. Aku hanya terbungkam sambil terus mengekor di belakangnya. Tubuhnya yang tinggi memotong kerumunan di Galeria Sabtu ini—tidak sepertiku yang kesulitan mengambil ruang di depanku untuk berjalan mengikutinya.

Dia menggenggam dan menarik telapak tanganku kuat-kuat agar aku tidak terpisah jauh di belakangnya. Aku memang seringkali tenggelam dalam kerumunan orang disini.

“Kamu laper nggak?” Dia bertanya di sela langkah-langkah panjangnya.
“Nggak. Ayo pulang aja.”

***

Kahlil. Aku mengenalnya dua tahun lalu lewat ketidaksengajaan sampai akhirnya kami berteman cukup dekat. Dia sering bercerita kepadaku setiap kali dia ingin mendekati seorang cewek. Aku juga pernah bercerita pada dia tentang masa lalu yang membuatku gagal move on . Kami sibuk mencari pasangan masing-masing dan sepertinya dia lebih berhasil daripada aku,  mungkin itu juga dikarenakan aku adalah seorang cewek dengan keterbatasan untuk memilih dan memulai cinta.

“Aku pengen pendekatan lagi kok sama dia.”

Dia membuka pembicaraan untuk menunggu lampu merah berubah hijau. Pembicaraan-pembicaraan kami memang lebih didominasi oleh cewek yang sedang disukainya. Tak jauh beda dengan tema pembicaraan kali ini—di Bangjo Gejayan dan malam yang dingin. Aku menghela napas panjang.

“Ganti, meneh?” Tanyaku sekenanya saja.
Ora. Kui mantanku.”
“Bukannya kamu udah punya pacar ya?”
“Lha iya itu baru putus.”
“Kenapa kamu nggak pernah serius sama cewek? Jangan gitu…”
“Mumpung masih muda, hahaha. Aku baru bisa serius nek karo Ibuku. Sayangku sing tenanan baru buat Ibuku.”
Ora kapok sama karma po?”
Iki kapok. Mulane aku pengen serius. Pengen tak tenani.
“Ya udah, selamat berjuang, Brother!”

Aku tidak bisa menggambarkan sebagai siapa Kahlil di kehidupanku, tetapi yang jelas aku bisa menjadi diriku sendiri setiap bersamanya. Aku sudah banyak mengetahui sikap dan sifatnya, salah satu yang selalu aku kritik adalah ketidakseriusannya saat berhubungan dengan cewek. Sebut saja, playboy.

Sembari menjejakkan roda motor di aspal ringroad utara, kami berbincang banyak malam ini. Sejak aku mengenal Kahlil, aku selalu mengenal setiap cewek yang pernah menjadi pacarnya. Untuk cewek-nya kali ini, aku tidak mengenal siapa dia. Yang aku tahu, Kahlil sangat menyayangi cewek itu.

“Aku malah suka sama seseorang dari dulu”
“Hahaha, koe?”
Malah ngguyu, iyalah!”
Tak kiro kowe lanang.”
Asem ki!  Aku ya bisa cantik kaya mantanmu yang segudang itu. Aku cuma males dandan aja, kebanyakan dandan ngehabisin duit. Kamu mau kalau aku jadi jarang nraktir kamu?”
“Hahaha amit. Ya udah, deketin dong kalau suka.” Ujarnya.
Aku hanya diam dan membenarkan posisi dudukku sedikit mundur, agar kami tidak terlihat seperti orang berpacaran.
“Tapi dia kan temenku dari dulu. Malu lah cewek kok mulai duluan…”
“Ya udah siap-siap aja uripmu monoton.” Timpalnya menakutiku.
“Ah! Tapi aku minder. Kayaknya aku bukan tipenya, Lil.”
“Haha nggak harus jadi tipenya. Yang penting dia nyaman sama kamu, udah. Lanang ki nggak seribet cewek.”
“Jadi, menurutmu aku punya peluang deket sama dia dengan tetep jadi diri sendiri? Coba bayangin kamu ada di posisi dia, aku suka sama kamu. Responmu gimana?”
“Yang penting dideketin, alon-alon. Jangan minder. Inget terus sama lirik lagu When You Love Someone punya Endah n’ Rhesa”
“Coba semua cowok di dunia ini pemikirannya sama kaya kamu, Lil…”
“Haha, padakmu aku ini pasaran. Aku limited edition.”

Iya. Kahlil itu limited edition, cuma ada satu di bumi ini. Memangnya ada seorang yang sangat menyayangi Ibunya namun tidak pernah menaruh keseriusan setiap kali berhubungan dengan seorang cewek?

***

Hari minggu adalah sandaran lelah bagi enam hari lainnya. Maka, hari Minggu milikku kali ini juga harus bisa kunikmati dengan sempurna. Aku tidak ingin memikirkan hal-hal yang merusak mood-ku.

Di setiap hari Minggu, aku selalu  memiliki lebih banyak waktu untuk online di Twitter dibandingkan enam hari lainnya. Aku menghidupkan laptop sejak pagi. Twitter itu seperti dunia di dalam dunia. Aku bisa mengetahui kegiatan orang-orang yang kukenal tanpa harus berbicara secara langsung.

Pagi pun masih belum menua ketika aku mendapati kicauan seseorang yang kukenal di linimasaku. Kicauan itu berisi sapaan kepada akun seorang perempuan yang tidak asing bagiku. Kicauan itu diakhiri dengan simbol hati!

Aku belum sempat bilang padanya bahwa dia adalah laki-laki yang aku ceritakan Sabtu lalu. Apa aku terlalu alon-alon mendekatinya? Tidak. Kami sudah dekat tanpa harus didekatkan oleh siapapun, tetapi kenapa waktu tidak memberiku lebih banyak kesempatan untuk lebih dekat dengannya.

Akhirnya, setelah ini aku hanya akan bisa mengetahui kabar dia lewat kicauan-kicauannya di linimasa dan seperti hari-hariku yang telah lalu. Aku hanya akan mendapati tiga jenis kicauan di linimasanya, percakapan dengan pacarnya, lirik lagu-lagu Payung Teduh yang sering dia kicaukan serta dua tiga kicauan lain  sekenanya.

Aku akan sangat merindukan semua tentang Kahlil. Saat aku tertawa karena leluconnya, saat dia membelikan aku susu kotak dingin, saat aku mengejeknya tukang mbribik, saat aku mendengar celotehannya yang hoam, saat aku menyemangatinya, saat dia menyemangatiku dan saat dia bilang, “Siap-siap wae uripmu monoton.”

Iya. Aku sudah siap sejak dulu untuk menjalani hidup yang monoton—dalam menyayangi dia—dan ternyata memang benar perkataannya, bahwa hidup monoton itu sama sekali tidak mengasyikkan. Semua orang tahu seberapa tidak mengasyikkannya disaat kau mencoba "pergi" dari seseorang, tetapi perasaan yang kau punya selalu membuatmu "kembali" dalam penantian.
***






Hari Minggu kelamku sudah berakhir dan Senin yang terkenal jahat harus kulewati dengan baik. Aku harus memulai hidup yang bahagia dengan atau tanpa Kahlil. Tidak apa-apa kalaupun aku harus melepaskannya, walaupun aku sendiri juga tidak tahu akan seperti apa kehidupanku setelah dia pergi menjauh. Mungkin hidupku tidak akan sebahagia waktu bersama dia.

Pagi ini aku kehabisan banyak waktu karena melamunkan Kahlil dengan merebahkan diri di kasur, padahal hari ini aku harus masuk sekolah pukul enam untuk mengikuti Tes Pendalaman Materi yang diadakan oleh sekolah. Betapa labilnya aku.

Dering ponsel membuyarkan lamunanku. Ada sebuah pesan whatsapp menampakkan diri di layarnya. Tidak biasanya ada pesan yang masuk sepagi ini. 

“Nanti kamu pulang jam berapa?”
“Setengah dua. Ada apa? Ini baru mau mandi terus berangkat.” Balasku dengan segera.
“Habis maghrib, ayo ke Susu Podjok!”

Jangan berpikiran bahwa aku baru saja berkirim pesan dengan Kahlil. Itu bukan pesan dia, dan tidak mungkin dari dia. Temanku yang mengirimnya dan aku meng-iya-kan ajakannya.

“Oke, habis maghrib aku tunggu di TKP ya!”

Aku telah siap untuk berangkat sekolah dan bersiap menghilangkan Kahlil di hatiku, di pikiranku dan di angan-anganku. 

***

“Mbak Hayu, dimana? Aku udah sampai.”

Aku mengirim pesan whatsapp kepada temanku yang mengajakku pagi tadi. Dia lah orang yang kumintai saran setiap kali aku memiliki masalah. Umurnya terpaut tiga tahun dariku sehingga wajar saja jika aku sering curhat dengannya, karena aku mengganggapnya lebih dewasa daripada aku.

Tak lama kemudian Mbak Hayu membalas pesanku dan aku segera masuk ke dalam kedai susu ini sambil melemparkan pandangan ke sudut-sudut ruangan. Seketika beribu kenangan menghujaniku tanpa kasihan.

“Disini kan tempat biasa aku lihat Kahlil nongkrong sama temen-temen sekolahnya.” Ucapku dalam hati. Aku menerawang ke langit-langit ruangan dalam diam.

Belum selesai aku bermelankolia di tempat ini, belum juga aku bertemu Mbak Hayu, aku dikagetkan oleh seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Ehm. Tumben kesini sendirian? Mau ketemu siapa?”
“Eh kamu, Lil. Iya nih mau ngumpul sama temen.” Aku berusaha seceria mungkin di hadapan mereka. Iya mereka, Kahlil dan pacarnya.
“Cie, ini nih yang digalauin Kahlil kemarin. Cantik.” Lanjutku mencairkan suasana.

Kahlil hanya tersenyum. Senyumnya mematikan urat-urat nadi di wajahku. Gurat-gurat di wajahnya seakan menamparku kencang sekali. Aku lemas, rasanya kantung mataku tidak sanggup lagi menampung hujan. 
"Lil, duluan ya? Temenku udah nunggu nih."
Kupercepat langkah untuk menemui Mbak Hayu, meninggalkan Kahlil dan seorang yang belum sempat kuajak berkenalan.

Hari Senin memang jahat—atau mungkin aku yang selalu dijahati oleh perasaanku sendiri. Ini memang salahku. Aku memang tidak pernah berani untuk jujur kepada Kahlil tentang perasaanku. Aku terlalu takut dia menjauhiku walaupun tanpa aku jujur pun dia akan jauh dariku dan ini buktinya.

Mbak Hayu nampak bingung melihatku. Aku tidak sempat berkata apapun karena kantung mataku telah tumpah. Napasku tersengal, sesak sekali. Aku menangis sejadi-jadinya malam ini. Aku tidak peduli semua orang melihatku dengan tatapan jijik dan heran. Aku lelah berpura-pura kuat.

“Tolong peluk aku sebentar.”

***

Setahun lebih adalah bukan waktu yang singkat untuk menunggu seseorang menyapa hati kita, namun memang seperti inilah adanya. Tidak pernah ada waktu yang lebih singkat dalam sebuah penantian. Penantian akan selalu memakan banyak waktu untuk membunuh dirinya sendiri sebelum membiarkan kita bahagia. Entah kapan penantianku membunuh dirinya sendiri dan membiarkan aku bahagia.

Seperti lampu lalu lintas di Bangjo Gejayan waktu itu. Penantian adalah proses untuk bisa bersama orang yang kita sayang dan akan selalu melewati tiga berkas warna yaitu kuning yang melambatkan tempo langkah menuju merah untuk berhenti sejenak dan menunggu sebelum sampai di hijau untuk berjalan. Dan setelah ini, aku tidak tahu harus berada di warna apa.

*Aku menulis ini disaat lampu kuningku sedang berubah merah.


0 tanggapan:

Posting Komentar


1. Jangan berkomentar secara SARA maupun SARU.
2. Jangan Berkomentar spam atau iklan bersifat komersial maupun iklan blog.
3. Jangan menjiplak tulisan apapun dari blog saya.
4. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui oleh penulis.

Sekian.
Salam Blogger.

 

Penonton Peran

Mengikuti

Banner Komunitas Blogger Jogja Berhati Nyaman