Arah Pulang



Kelam dan menggelap
Cahaya terang mulai menghilang
Jemari yang tergenggam tak lagi menguatkan
Lingkaran tanganmu tak lagi menghangatkan

Bisikanmu tak lagi terbaca di telinga
Hatimu bagai belukar yang menghapus arah pulang
Aku tersesat di jalan yang kubuat sendiri
Terhujan luka yang melunturkan bahagia

Selayaknya hujan yang hendak memeluk seluruh permukaan
Namun tubuhnya terlalu ringan untuk sejenak tinggal
Sehingga tanpa sempat dia berkata-kata
Waktu memaksanya mengalir jauh tak terarah

Aku adalah setitik embun yang telat menemui pagi
Kemudian memilih tinggal bersama petang
Menunggu hujan meluluhkan hidupnya
Meleburkannya, menyatukannya dan pergi





0 tanggapan:

Posting Komentar


1. Jangan berkomentar secara SARA maupun SARU.
2. Jangan Berkomentar spam atau iklan bersifat komersial maupun iklan blog.
3. Jangan menjiplak tulisan apapun dari blog saya.
4. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui oleh penulis.

Sekian.
Salam Blogger.

 

Penonton Peran

Mengikuti

Banner Komunitas Blogger Jogja Berhati Nyaman